Kamis, 16 Juli 2009

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HIV/AIDS



BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Berdasarkan data statistik, peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia begitu cepat. Apalagi, ternyata dasar penularan awal epidemi ini disebabkan oleh jarum suntik. Diperkirakan saat ini terdapat lebih dari 1,3 juta penderita HIV dan AIDS akibat jarum suntik. Jika terus berlanjut, maka diperkirakan pada tahun 2020 jumlah itu akan meningkat menjadi 2,3 juta orang. 46 persen di antaranya adalah pengguna narkoba suntik. Oleh karena itu, setiap lini di tataran masyarakat dan pemerintah Indonesia perlu bekerja sama melakukan penanganan secara cepat, membangun dan mengelola sistem jangka panjang, serta memperbaiki sistem pelayanan kesehatan dan distribusi yang lemah (http://www.technologyindonesia.com)

Dan sebagai tenaga kesehatan, perawat sebagai mitra bagi dokter dan tenaga kesehatan lainnya perlu memiliki pengetahuan tentang HIV/AIDS dan penatalaksanaannya sebagai bentuk tuntutan masyarakat agar penderita dan penyebaran HIV/AIDS dapat tertangani secara komprehensif.

Adapun yang melatarbelakangi penulisan makalah ini selain merupakan tugas kelompok juga merupakan materi bahasan dalam mata kuliah Keperawatan Medical Bedah. Dimana mahasiswa dari setiap kelompok akan membahas materi, sesuai judul materi yang telah ditugaskan kepada masing-masing kelompok. Dalam makalah ini akan dibahas tentang “AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome)” yang merupakan penyakit yang menyerang system kekebalan tubuh manusia, yang dapat memudahkan atau membuat rentan si pendertia terhadap penyakit dari luar maupun dari dalam tubuh. AIDS merupakan penyakit yang disebabkan oleh Human Immuno-deficiency Virus (HIV).

2. Tujuan Instruksional

Tujuan Instruksional Umum :
Setelah disusun makalah ini mahasiswa keperawatan mampu memahami efektifitas Asuhan Keperawatan pada klien dengan HIV/AIDS sesuai dengan Pendekatan Proses Keperawatan

Tujuan Instruksional Khusus :
Setelah disusun makalah ini mahasiswa keperawatan mampu:
1.Menjelaskan Latar Belakang penyusunan makalah tentang HIV/AIDS
2.Menjelaskan Tujuan Umum & Khusus dari pembelajaran HIV/AIDS
3.Memahami Manfaat Penulisan makalah tentang HIV/AIDS
4.Memahami Ruang Lingkup HIV/AIDS
5.Menjelaskan Konsep Dasar Penyakit HIV/AIDS
6.Memahami Pengertian HIV/AIDS
7.Memahami Anatomi Fisiologi HIV/AIDS
8.Memahami Patofisiologi HIV/AIDS
9.Memahami Tanda dan Gejala HIV/AIDS
10.Memahami Penatalaksanaan Medis / keperawatan HIV/AIDS
11.Asuhan Keperawatan pada klien HIV/AIDS


3. Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan makalah ini antara lain :
Bagi Pendidikan:
1.Sebagai bahan pertanggungjawaban mahasiswa dalam mengerjakan tugas kelompok dari mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah.
2.Sebagai bahan penilaian terhadap tugas yang di berikan terhadap mahasiswa ; baik dalam penyusunan makalah maupun presentasi makalah.
Bagi Mahasiswa:
1.Sebagai bahan pembelajaran dalam diskusi kelompok.
2.Mahasiswa mampu menguasai bahan makalah dan mempresentasikan hasil diskusi kelompok
3.Mahasiswa memiliki pengetahuan dan kemampuan di dalam merawat atau menangani kasus HIV/AIDS.

BAB II
ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME
(AIDS)

Konsep Dasar Penyakit

1. Pengertian
1.AIDS atauAcquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh vurus yang disebut HIV. Dalam bahasa Indonesia dapat dialih katakana sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan.
Acquired : Didapat, Bukan penyakit keturunan
Immune : Sistem kekebalan tubuh
Deficiency : Kekurangan
Syndrome : Kumpulan gejala-gejala penyakit
2.Kerusakan progrwsif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA ( orang dengan HIV /AIDS ) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal.
3.AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh factor luar ( bukan dibawa sejak lahir )
4.AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare )
5.AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( Center for Disease Control and Prevention )
6.AIDS adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan tejadinya defisiensi, tersebut seperti keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya.

2. Anatomi Fisiologi

HIV (Human Immunodeficiency Virus)
Termasuk salah satu retrovirus yang secara khusus menyerang sel darah putih (sel T). Retrovirus adalah virus ARN hewan yang mempunyai tahap ADN. Virus tersebut mempunyai suatu enzim, yaitu enzim transkriptase balik yang mengubah rantai tunggal ARN (sebagai cetakan) menjadi rantai ganda kopian ADN (cADN). Selanjutnya, cADN bergabung dengan ADN inang mengikuti replikasi ADN inang. Pada saat ADN inang mengalami replikasi, secara langsung ADN virus ikut mengalami replikasi.
Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T 4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.

3. Etiologi

AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang dapat berakibat fatal. Padahal, penyakit-penyakit tersebut misalnya berbagai virus, cacing, jamur protozoa, dan basil tidak menyebabkan gangguan yang berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal. Selain penyakit infeksi, penderita AIDS juga mudah terkena kanker. Dengan demikian, gejala AIDS amat bervariasi.

Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah virus HIV (Human Immuno-deficiency Virus). Dewasa ini dikenal juga dua tipe HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. Sebagian besar infeksi disebabkan HIV-1, sedangkan infeksi oleh HIV-2 didapatkan di Afrika Barat. Infeksi HIV-1 memberi gambaran klinis yang hampir sama. Hanya infeksi HIV-1 lebih mudah ditularkan dan masa sejak mulai infeksi (masuknya virus ke tubuh) sampai timbulnya penyakit lebih pendek.

4. Patofisiologi

Setelah terinfeksi HIV, 50-70% penderita akan mengalami gejala yang disebut sindrom HIV akut. Gejala ini serupa dengan gejala infeksi virus pada umumnya yaitu berupa demam, sakit kepala, sakit tenggorok, mialgia (pegal-pegal di badan), pembesaran kelenjar dan rasa lemah. Pada sebagian orang, infeksi dapat berat disertai kesadaran menurun. Sindrom ini biasanya akan menghilang dalam beberapa mingggu. Dalam waktu 3 – 6 bulan kemudian, tes serologi baru akan positif, karena telah terbentuk antibodi. Masa 3 – 6 bulan ini disebut window periode, di mana penderita dapat menularkan namun secara laboratorium hasil tes HIV-nya masih negatif.

Setelah melalui infeksi primer, penderita akan masuk ke dalam masa tanpa gejala. Pada masa ini virus terus berkembang biak secara progresif di kelenjar limfe. Masa ini berlangsung cukup panjang, yaitu 5 10 tahun. Setelah masa ini pasien akan masuk ke fase full blown AIDS.
Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T 4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.
Dengan menurunnya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong.
Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.
Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS.
Klasifikasi
Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS (kategori C) dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita AIDS.
a.Kategori Klinis A
Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis B dan C
1.Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik.
2.Limpanodenopati generalisata yang persisten ( PGI : Persistent Generalized Limpanodenophaty )
3.Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut dengan sakit yang menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.
b.Kategori Klinis B
Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup :
1.Angiomatosis Baksilaris
2.Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek terhadap terapi
3.Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ )
4.Gejala konstitusional seperti panas ( 38,5o C ) atau diare lebih dari 1 bulan.
5.Leukoplakial yang berambut
6.Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari satu dermaton saraf.
7.Idiopatik Trombositopenik Purpura
8.Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii
c.Kategori Klinis C
Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup :
1.Kandidiasis bronkus,trakea / paru-paru, esophagus
2.Kanker serviks inpasif
3.Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata
4.Kriptokokosis ekstrapulmoner
5.Kriptosporidosis internal kronis
6.Cytomegalovirus ( bukan hati,lien, atau kelenjar limfe )
7.Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan )
8.Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
9.Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis )
10.Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner )
11.Isoproasis intestinal yang kronis
12.Sarkoma Kaposi
13.Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak
14.Kompleks mycobacterium avium ( M.kansasi yang diseminata / ekstrapulmoner
15.M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner )
16.Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner
17.Pneumonia Pneumocystic Cranii
18.Pneumonia Rekuren
19.Leukoenselophaty multifokal progresiva
20.Septikemia salmonella yang rekuren
21.Toksoplamosis otak
22.Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV)

5. Tanda dan Gejala Penyakit AIDS

Gejala penyakit AIDS sangat bervariasi. Berikut ini gejala yang ditemui pada penderita AIDS :
Panas lebih dari 1 bulan,
Batuk-batuk,
Sariawan dan nyeri menelan,
Badan menjadi kurus sekali,
Diare ,
Sesak napas,
Pembesaran kelenjar getah bening,
Kesadaran menurun,
Penurunan ketajaman penglihatan,
Bercak ungu kehitaman di kulit.

Gejala penyakit AIDS tersebut harus ditafsirkan dengan hati-hati, karena dapat merupakan gejala penyakit lain yang banyak terdapat di Indonesia, misalnya gejala panas dapat disebabkan penyakit tipus atau tuberkulosis paru. Bila terdapat beberapa gejala bersama-sama pada seseorang dan ia mempunyai perilaku atau riwayat perilaku yang mudah tertular AIDS, maka dianjurkan ia tes darah HIV.

Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 – 2 minggu pasien akan merasakan sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral.

Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk menibgitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal
1.Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh.
2.Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala
Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif.
3.Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.

Komplikasi

Berdasarkan data-data hasil penilaian komplikasi yang mungkin terjadi mencakup : (Suzanne C. Smeltzer, Brenda G. Bare, Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Sudarth ed. 8, EGC, Jakarta, 2001: 1734)
Infeksi oportunistik
Kerusakan pernapasan atau kegagalan respirasi
Syndrome pelisutan dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
Reaksi yang merugikan terhadap obat-obatan.

Penyakit yang Sering Menyerang Perilaku AIDS

Dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh, penderita menjadi lebih mudah terserang penyakit infeksi maupun kanker. Bahkan penyakit-penyakit inilah yang sering menjadi penyebab kematian penderita. Infeksi yang timbul karena melemahnya kekebalan tubuh ini disebut infeksi oportunistik. Sebagian besar penyakit infeksi yang timbul merupakan reaktivasi (pengaktifan kembali) kuman yang sudah ada pada penderita, jadi bukan merupakan infeksi baru. Sementara itu, untuk infeksi parasit/jamur tergantung prevalensi parasit/jamur di daerah tersebut. Berikut penyakit yang ditemukan pada penderita AIDS :
Kandidiasis oral dan esophagus,
Tuberkulosis paru/ekstrapulmoner,
Infeksi virus sitomegalo,
Pneumonia rekurens,
Ensefalitis toksoplasma,
Pneumonia P. Carinii,
Infeksi virus herpes simpleks.

Atau dapat dikategorikan sebagai berikut:

a. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis,peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
b. Neurologik
kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.
Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.
Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)
c. Gastrointestinal
Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.
Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.
d. Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek, batuk, nyeri, hipoksia, keletihan,gagal nafas.
e. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
f. Sensorik
Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.


6. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan

Walau belum ada obat penyembuh AIDS, namun telah ditemukan beberapa obat yang dapat menghambat infeksi HIV dan beberapa obat yang secara efektif dapat mengatasi infeksi. Jadi sebagian besar masalah klinik dapat diobati, kualitas hidup dapat diperbaiki dan harapan hidup dapat ditingkatkan.

Pada umumnya pengobatan penderita AIDS dapat dibagi menjadi 3 yaitu pengobatan terhadap HIV, pengobatan terhadap infeksi oportunistik, dan pengobatan pendukung seperti nutrisi, olahraga, tidur, psikososial, dan agama.

Penularan Penyakit AIDS

Biaya pengobatan penyakit ini amat mahal, padahal hasilnya pun masih belum memuaskan, karena itu akan lebih baik mencegah timbulnya penyakit ini bila dibandingkan mengobati. Untuk melakukan upaya pencegahan perlu diketahui bagaimana cara penularan penyakit ini.

Pada prinsipnya penularan penyakit ini dapat melalui hubungan seksual, parenteral, dan perinatal. Kendati efektifitas penularan seksual sangat kecil dibandingkan jalur penularan lain, yaitu berkisar 0,1 – 1 %, tetapi karena frekuensi kejadiannya sangat besar maka prosentase penularan HIV secara seksual akhirnya menjadi sangat besar.

Cara Penularan

Berikut cara penularan AIDS di Indonesia
1.Hubungan seksual
2.Pengguna narkotika suntik bergantian
3.Perinatal
4.Tranfusi darah
5.Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril
6.Alat-alat untuk menoreh kulit

Penatalaksanaan

Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :
1.Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi.
2.Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi.
3.Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
4.Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
5.Mencegah infeksi ke janin / bayi baru lahir.

TERAPI MEDIS

Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terapinya yaitu :
a.Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan,mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.
b.Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3
c.Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
– Didanosine
– Ribavirin
– Diedoxycytidine
– Recombinant CD 4 dapat larut
d.Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
e.Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.
f.Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

MANAJEMEN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Pengkajian keperawatan mencakup pengenalan factor risiko yang potensial, termasuk praktik seksual yang berisiko dan penggunaan obat-obatan Intravena. Status fisik dan psikologis pasien harus di nilai. Semua factor yang mempengaruhi fungsi system imun perlu digali dengan seksama.

Status nutrisi dinilai dengan menanyakan riwayat diet dan mengenalai factor-faktor yang dapat menggangu asupan oral seperti anoreksia, mual, vomitus, nyeri oral atau kesulitan menelan. Disamping itu, kemampuan pasien untuk membeli dan mempersiapkan makanan harus dinilai. Pertimbangan berat badan, pengukuran antropometrik, pemeriksaan kadar BUN (blood urea nitrogen), protein serum, albumin dan transperin akan memberikan parameter status nutrisi yang objektif.

Kulit dan membrane mukosa diinspeksi setiap hari untuk menemukan tanda-tanda lesi, ulserasi atau infeksi. Rongga mulut diperiksa untuk memantau gejala kemerahan , ulserasi dan adanya bercak-bercak putih seperti krim yang menunjukkan kandidiasis. Daerah perianal harus diperiksa untuk menemukan ekskoriasi dan infeksi pada pasien dengan diare profus. Pemeriksaan kultur luka dapat dimintakan untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang infeksius.

Status respiratorius dimulai dengan pemantauan pasien untuk mendeteksi gejala batuk, produksi sputum, napas yang pendek dan ortopnea, takipnea, dan nyeri dada. Keberadaan suara pernapasan dan sifatnya juga harus diperiksa. Ukuran fungsi paru yang lain mencakup hasil foto roentgen thoraks, hasil pemeriksaan gas darah arteri dan hasil tes faal paru.

Status neurologist ditentukan dengan menilai tingkat kesadaran pasien, orientasinya terhadap orang, tempat dan waktu serta ingatan yang hilang. Pasien juga di nilai untuk mendeteksi gangguan sensorik (perubahan visual, sakit kepala, patirasa dan parestesia pada ekstremitas) serta gangguan motorik (perubahan gaya jalan, paresis atau paralysis) dan serangan kejang.
Status cairan dan elektrolit dinilai dengan memeriksa kulit serta membrane mukosa untuk menetukan turgor dan kekeringan. Peningkatan rasa haus, penurunan haluaran urin, tekanan darah yang rendah dan penurunan tekanan sistolik antara 10 dan 15 mm Hg dengan disertai kenaikan frekuensi denyut nadi ketika pasien duduk, denyut nadi yang lemah serta cepat dan berat jenis urin sebesar 1,025 atau lebih, menunjukkan dehidrasi. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit seperti penurunan kadar natrium, kalium, kalsium, magnesium dan klorida dalam serum secara khas akan terjadi karena diare hebat.

Pemeriksaan pasien juga dilakukan untuk menilai tanda-tanda dan gejala deplesi elektrolit ; tanda-tanda ini mencakup penurunan status mental, kedutan otot, denyut nadi yang tidak teratur, mual serta vomitus, dan pernapasan yang dangkal.

Tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya dan cara-cara penularan penyakit harus di evaluasi. Disamping itu, tingkat tingkat pengetahuan keluarga dan sahabat perlu dinilai. Reaksi psikologis pasien terhadap diagnosis penyakit AIDS merupakan informasi penting yang harus di gali. Reaksi dapat bervariasi antara pasien yang satu dengan yang lainnya dan dapat mencakup penolakan, amarah, rasa takut, rasa malu, menarik diri dari pergaulan social dan depresi. Pemahaman tentang cara pasien menghadapi sakitnya dan riwayat stress utama yang pernah dialami sebelumnya kerapkali bermanfaat. Sumber-sumber yang dimiliki pasien untuk memberikan dukungan kepadanya juga harus diidentifikasi.

Diagnosa
Daftar diagnosa keperawatan yang mungkin dibuat sangat luas karena sifat penyakit AIDS yang amat kompleks.

1.Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan manifestasi HIV ekskoriasi dan diare.
2.Diare yang berhubungan dengan kuman pathogen pada usus dan atau infeksi HIV.
3.Risiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan imunodefisiensi.
4.Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan keadaan mudah letih, kelemahan, malnutrisi, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dan hipoksia yang yang menyertai infeksi paru.
5.Perubahan proses pikir yang berhubungan dengan penyempitan rentang perhatian, gangguan daya ingat, kebingungan dan disorientasi yang menyertai ensefelopati HIV.
6.Bersihan saluran napas tidak efektif yang berhubungan dengan pneumonia pneumocystis carinii (PCP), peningkatan sekresi bronkus dan penurunan kemampuan untuk batuk yang menyertai kelemahan serta keadaan mudah letih.
7.Nyeri yang berhubungan dengan gangguan integritas kulit perianal akibat diare, sarcoma Kaposi dan neuropati perifer.
8.Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh, yang berhubungan dengan penurunan asupan oral.
9.Isolasi social yang berhubungan dengan stigma penyakit, penarikan diri dari system pendukung, prosedur isolasi dan ketakutan apabila dirinya menulari orang lain.
10.Berduka diantisipasi yang berhubungan dengan perubahan gaya hidup serta peranannya dan dengan prognosis yang tidak menyenangkan.
11.Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara mencegah HIV dan perawatan mandiri.

3. Intervensi Keperawatan

3. 1. Meningkatkan integritas kulit
(a)Kulit dan mukosa oral harus dinilai secara rutin untuk mendeteksi perubahan dalam penampakan, lokasi serta ukuran lesi dan menemukan bukti infeksi serta kerusakan kulit.
(b)Anjurkan pasien sedapat mungkin mempertahankan keseimbangan antara istirahat dan mobilitas. Pasien yang immobile (tidak dapat bergerak) harus dibantu untuk mengubah posisi tubuhnya setiap 2 jam sekali.
(c)Alat-alat seperti kasur dengan tekanan yang berubah-ubah dan tempat tidur khusus (low and high-air loss beds) digunakan untuk mencegah disrupsi kulit.
(d)Pasien diminta untuk tidak menggaruk dan mau menggunakan sabun yang nion abrasive serta tidak membuat kulit menjadi kering, dan memakai pelembab kulit tanpa parfum untuk mencegah kekeringan, kulit. Perawatan oral yang rutin harus dianjurkan pula.
(e)Lotion, salep, dan kasa steril yang dibubuhi obat (medicated) dapat digunakan pada kulit yang sakit sesuai ketentuan dokter. Penggunaan plester harus dihindari.
(f)Permukaan kulit dilindungi terhadap gesekan dengan menjaga agar kain sprei tidak berkerut dan menghindari pemakaian pakaian yang ketat. Pasien dengan lesi kaki dianjurkan menggunakan kaus kaki katun berwarna putih dan sepatu yang tidak membuat kaki berkeringat.
(g)Obat-obat antipruritus, antibiotic dan analgetik diberikan menurut ketentuan medik.
(h)Sering periksa daerah perianal nilai perubahan gangguan integritas kulit dan infeksi. Bersihkan setiap selesai defekasi dengan sabun nonabrasive.

3.2. Meningkatkan kebiasaan defekasi yang lazim.
(a)Nilai pola defekasi
(b)Pantau frekuensi defekasi serta konsistensi feses serta rasa sakit dan kram pada perut berkaitan dengan defekasi.
(c)Nilai faktor-faktor yang membuat diare yang frekuen kambuh kembali, ukur kuantitas dan volume feses, kultur feses dilakukan untuk mengidentifikasi mikroorganisme pathogen penyebab diare.
(d)Kolaborasi untuk cara-cara mengurangi diare yang perlu dilakukan pasien, pembatasan asupan oral serta control jenis makanan yang boleh di konsumsi.

3.3. Mencegah infeksi.
(a)Kepada pasien dan orang yang merawatnya diminta untuk memantau tanda-tanda infeksi ; seperti gejala demam/panas, menggigil, keringat malam, batuk dengan atau tanpa produksi sputum, napas yang pendek, kesulitan bernapas, rasa sakit pada mulut atau kesulitan menelan, bercak-bercak putih pada rongga mulut, penurunan berat badan, pembengkakan kelenjar limfe, mual, muntah, diare persisten, sering berkemih, sulit untuk mulai dan nyeri saat berkemih, sakit kepala, perubahan visual dan penurunan daya ingat, kemerahan, pembngkakan atau pengeluaran secret pada kulit, lesi vaskuler pada wajah, bibir atau daerah perianal.
(b)Pantau hasil laboratorium yanmg menunjukkan infeksi.
(c)Penyuluhan pasien mencakup strategi pencegahan infeksi.

3.4. Memperbaiki toleransi terhadap aktivitas.

(a)Pantau kemampuan pasien untuk bergerak (ambulasi), dan ADL pasien.
(b)Susun rencana rutinitas harian yang menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat yang mungkin diperlukan.
(c)Berikan terapi relaksasi dan imajinasi.
(d)Kolaborasi untuk pengungkapan penyebab mudah lelah serta strategi menghadapinya.

3.5. Memperbaiki proses berpikir.
Periksa keadaan status mental pasien.
(a)Bantu pasien dan keluarga untuk memahami dan mengatasi semua perubahan yang terjadi dalam proses berpikir.
(b)Lakukan tindakan untuk melindungi pasien dari cedera, seperti ; penempatan lonceng dan tombol pemanggil yang mudah dijangkau.

3.6. Memperbaiki bersihan jalan napas.
(a)Kaji status respiratorius, mencakup frekuensi, irama, penggunaan otot-otot aksesorius dan suara pernapasan.
(b)Lakukan pengambilan specimen sutum untuk dianalisis.
(c)Terapi pulmoner dilakukan sedikitnya setiap dua jam sekali untuk mencegah stasis sekresi dan meningkatkan bersihan jalan napas.
(d)Berikan bantuan dalam merubah posisi.
(e)Berikan kesempatan istirahat yang cukup.
(f)Berikan oksigen yang sudah dilembabkan untuk tindakan pengisapan lender (suctioning) untuk mempertahankan ventilasi yang memadai.

3.7. Meredakan Nyeri dan Ketidaknyamanan.
(a)Nilai kualitas dan kuantitas nyeri pasien yang berkaitan dengan terganggunya integritas kulit perianal, lesi sarcoma Kaposi dan neuropati perifer.
(b)Bersihkan daerah perianal untuk memberikan kenyamanan.
(c)Preparat anastesi topical atau salep dapat diresepkan
(d)Gunakan bantal yang lunak atau busa untuk kenyamanan saat duduk.
(e)Kolaborasi untuk penggunaan preparat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) pada nyeri akibat sarcoma Kaposi. Dan opoid, antidepresan untuk neuropati perifer.

3.8. Memperbaiki status nutrisi.
(a)Pantau berat badan, asupan makanan, hasil pengukuran antropometrik.
(b)Kaji faktor-faktor yang mengganggu asupan oral seperti anoreksia, infeksi kandida pada mulut serta esophagus, mual, nyeri, kelemahan dan keadaan mudah letih seerta intoleransi laktosa.
(c)Berikan obat antiemetik secara teratur untuk mengendalikan mual dan muntah.
(d)Anjurkan pasien memakan makanan yang mudah ditelan dan meghindari makanan yang kasar, pedas ataupun lengket serta terlalu panas atau dingin.
(e)Anjurkan pasien melakukan hygiene oral sebelum dan atau sesudah makan.
(f)Anjurkan pasien istirahat sebelum makan, jika keadaan pasien mudah lelah.
(g)Kolaborasi dengan ahli gizi untuk masalah diet atau asupan gizi yang diperlukan pasien.

3.9. Mengurangi isolasi social.
(a)Lakukan penilaian tingkat interaksi social pasien.
(b)Lakukan tindakan pengendalian infeksi dirumah sakit atau dirumah untuk memberikan kontribusi atas emosi pasien.
(c)Perawat harus memahami dan menerima penderita AIDS dan keluarga serta pasangan seksualnya.
(d)Berikan informasi tentang cara melindungi diri sendiri dan orang lain dapat membantu pasien agar tidak menghindar kontak social.
(e)Pendidikan bagi dokter, perawat akan megurangi faktor-faktor yang turut membuat pasien meras terisolasi.

3.10. Koping terhadap kesedihan.
(a)Bantu pasien mengungkapkan dengan kata-kata bagaimana perasaannya.
(b)Motivasi pasien untuk mempertahankan kontak dengan keluarga serta sahabatnya dan memanfaatkan kelompok-kelompok pendukung AIDS local maupun nasional serta saluran telepon hotline.

3.11. Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah.
(a)Beritahukan kepada keluarga dan sahabat-sahabat pasien tentang cara-cara penularan AIDS. Bicarakan masalah ketakutan dan kesalahpahaman dengan seksama.
(b)Sampaikan tindakan penjagaan yang diperlukan untuk mencegah penularan virus HIV, termasuk penggunaan kondom selama melakukan hubungan seksual.

4. Evaluasi
Hasil yang diharapkan :
1.Mempertahankan integritas kulit.
2.Mendapatkan kembali kebiasaan defekasi yang normal.
3.Tidak mengalami infeksi.
4.Mempertahankan tingkat toleransi yang memadai terhadap aktivitas.
5.Mempertahankan tingkat proses berpikir yang lazim.
6.Mempertahankan klirens saluran napas yang efektif.
7.Mengalami peningkatan rasa nyaman, penurunan rasa nyeri.
8.Mempertahankan status nutrisi yang memadai.
9.Mengalami pengurangan perasaan terisolir dari pergaulan social.
10.Melewati proses kesedihan/dukacita.
11.Melaporkan peningkatan pemahaman tentang penyakit AIDS serta turut berpartisipasi sebanyak mungkin dalam kegiatan keperawatan mandiri.tidak adanya komplikasi.

BAB III. PENUTUP

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome. Acquired artinya didapat, jadi bukan merupakan penyakit keturunan, immuno berarti sistem kekebalan tubuh, deficiency artinya kekurangan, sedangkan syndrome adalah kumpulan gejala.

AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang dapat berakibat fatal. Padahal, penyakit-penyakit tersebut misalnya berbagai virus, cacing, jamur protozoa, dan basil tidak menyebabkan gangguan yang berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal. Selain penyakit infeksi, penderita AIDS juga mudah terkena kanker. Dengan demikian, gejala AIDS amat bervariasi.

Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah virus HIV (Human Immuno-deficiency Virus). Dewasa ini dikenal juga dua tipe HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. Sebagian besar infeksi disebabkan HIV-1, sedangkan infeksi oleh HIV-2 didapatkan di Afrika Barat. Infeksi HIV-1 memberi gambaran klinis yang hampir sama. Hanya infeksi HIV-1 lebih mudah ditularkan dan masa sejak mulai infeksi (masuknya virus ke tubuh) sampai timbulnya penyakit lebih pendek.

Saran
Perawat dari segala bidang pekerjaan dapat diminta untuk memberikan perawatan kepada penderita infeksi HIV. Tantangan yang dihadapi perawat disini bukan hanya tantangan fisik penyakit yang bersifat epidemic tapi juga masalah emosi dan etis. Kekhawatiran, ketakutan akan tertular penyakit tersebut dialami oleh perawat, tetapi di satu sisi itu merupakan tanggung jawab untuk memberikan perawatan, penghargaan terhadap klarifikasi, kerahasiaan pasien.

Perlu diingat bahwa disini perawat tetap bertanggung jawab terhadap kerahasiaan dan privasi pasien. Perawat setiap hari bergelut dengan orang-orang yang sakit dan kematian, dan AIDS adalah penyakit dengan tingkat mortalitas yang tinggi, yang kematiannya relative cepat, dan yang terutama adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Maka akan terjadi peningkatan stressor perawat, untuk menghindari itu pahami betul apa yang sedang kita hadapi. Proteksi diri kita sendiri, cegah infeksi dan penularan penyakit tersebut pada saat kita harus berhadapan dengannya, karena itu merupakan tanggungg jawab kita. Jangan sampai menunjukkan perasaan takut dan cemas tersebut dihadapan pasien karena itu sangat tidak etis, sebab kita merupakan orang yang dituntut untuk tahu banyak tentang penyakit AIDS dan pencegahan penularannya.

DAFTAR PUSTAKA

Suzanne C. Smeltzer, Brenda G. Bare, Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Sudarth ed. 8, EGC, Jakarta, 2001.
Marylinn E. Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan Ed.3, EGC, Jakarta, 1999.
http://www.mer-c.org/mc/ina/ikes/ikes_0604_aids.htm
http://www. patriani-gift.blogspot.com/2009/02/download-askep-hivaids.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Virus

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar